
Pada tgl 30 Juli 2026, Supriyanto yang dikyaikan membuat argumen untuk menshahihkan nasab Baalwi pada situs ini. Dua argumennya adalah berikut:
"Sesungguhnya setiap ahli nasab pada setiap generasi TIDAK MENCAKUP penyebutan SELURUH INDIVIDU. Terkadang ia sama sekali tidak menyebut seseorang, terkadang ada yang terlewat, dan terkadang ada pula tambahan...
Argumen kedua adalah
Perhatikan argumennya. Intinya tidak tercatat BUKAN berarti PASTI TIDAK ADA. Tetapi tidak menutup celah bahwa Klaimnya punya kemungkinan untuk MUSTAHIL.
Dalam khasanah keilmuan, pembuktikan klaim itu menuntut PEMBUKTIAN FISIK BAHWA KLAIM ADA, BENAR, DAN TIDAK MUSTAHIL
Perhatikan Surat Qur'an Ini:
Mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar.” (Al Baqarah 111)
Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang benar.” (An Naml ayat 64)
Atau apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah: 'Bawalah bukti kebenaranmu!' (Al-Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang sebelumku. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebetulan), karena itu mereka berpaling. (QS. Al-Anbiya': 24)
Dan Kami cabut dari setiap umat seorang saksi, lalu Kami katakan: 'Bawalah bukti kebenaranmu!' Maka tahulah mereka bahwa kebenaran itu milik Allah dan lenyaplah dari meereka apa yang dahulu mereka ada-adakan. (QS. Al-Qashas: 75)
Keempat surat tadi memerintahkan Nabi Muhammad dan kita umat Muslim, untuk menyertakan bukti yang menguatkan suatu klaim. Bukti itu harus Qathi, sedangkan argumen Supriyanto itu SPEKULATIF, bisa ada bisa tidak.
Pembuktian harus absolut bagi yang mengklaim menurut pendapat Ulama disarikan disini:
Imam Ghazali dalam Al-Munqidh min ad-Dhalal menulis:
Ilmu yang yakin adalah ilmu yang membuka objek pengetahuan secara terang benderang hingga tidak tersisa lagi keraguan padanya, tidak diliputi oleh kemungkinan salah maupun kekeliruan, serta tidak ada ruang di dalam hati untuk menyusupkan spekulasi.
Imam Hasan Al Haytsam dalam kitabnya yang menjadi babon metode Ilmiah modern, Al Manazir menulis:
Pencari kebenaran (al-muta'allim/al-bahits) yang meneliti tulisan-tulisan para ulama (ilmuwan), jika tujuannya adalah untuk mengetahui kebenaran hakiki, maka ia wajib menjadikan dirinya sebagai 'musuh' (pengkritik/penyanggah) bagi setiap materi yang ia baca. Ia harus menggerakkan pikirannya ke dalam teks utama maupun catatan-catatan pinggirnya, menyerangnya dari segala sudut dan sisi, serta wajib mencurigai (bersikap kritis terhadap) dirinya sendiri saat melakukan penelusuran tersebut, sehingga ia tidak bersikap toleran maupun mempermudah-mudah suatu klaim tanpa pembuktian.
Ibnu Rusyd, seorang Qadhi dalam Mazhab Maliki menulis dalam kitab Syarh Al Burhan:
Sebab sesungguhnya Burhan itu adalah silogisme yang menghasilkan pengetahuan meyakinkan (ilm yaqini). Sedangkan Yaqin (kepastian) itu adalah keyakinan terhadap sesuatu bahwa ia memang demikian, dan tidak mungkin (secara rasional) menjadi selain demikian, disertai pengetahuan bahwa hal itu tidak mungkin berubah, sehingga tidak tersisa lagi bersamanya keraguan (syakk) maupun spekulasi/dugaan (zhan) selamanya.
Jadi baik Qur'an dan Ulama tidak menyepakati argumen spekulatif dalam pembuktian suatu klaim.
Apalagi ternyata bahwa klaim Baalwi itu mustahil, sesuai ajaran Al Anam 76-79 :
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ (78)
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Ayat 76: "Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, 'Inikah Tuhanku?' Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata, 'Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam (hilang/berubah).'"
Ayat 77: "Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inikah Tuhanku?' Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata, 'Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang sesat.'"
Ayat 78: "Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inikah Tuhanku? Ini yang lebih besar.' Maka ketika matahari itu terbenam, dia berkata, 'Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'"
Ayat 79: "Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan (lurus), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya."
Tanpa tahu apa haplogroup Nabi Ibrahim, pada kenyataannya, common haplogroup antara Baalwi dan Bani Idrisi yang berada di G-P15 berada di terminal haplogroup G-CTS574 dengan TMRCA 14500 tahun yang lalu. Demikian juga Bani Haidari dari Haplogroup G yang mengklaim Husaini, ternyata TMRCAnya dengan G-Y32613 Baalwi 6900 tahun yang lalu. Kedua Burhan itu memustahilkan klaim Baalwi sebagai Jafari Husaini, karena Imam Husain dan Imam Ali hidup di era abad 7 dan 8 Masehi. Angka TMRCA Baalwi yang 14500 ybp dengan Bani Idrisi yang haplogroup G dan 6900 dengan Bani Haidari yang haplogroup G, membuat klaim Baalwi itu MUSTAHIL BENAR.
Dalam metode ilmiah, pembuktian itu ada dua cara :
- Pembuktian positif, artinya membuktikan kebenarannya (H1 diterima, H0 ditolak)
- Pembuktian negatif, artinya membuktikan klaim itu mustahil (H1 mustahil maka kembali ke H0)
Jadi, argumen Supriyanto itu ngawur dan menjelaskan yang bersangkutan tidak pernah menunaikan kewajiban belajar metode Ilmiah. Orang seperti itu HARAM dikyaikan. Kalau di mBahkan, nanti dia tua ya jadi mBah sendiri.